MEDIA LEGAL - Art Activism and Connected
pada tanggal 17-26 November 2014 berlangsung sebuah
pameran bersama di Taman Budaya Yogyakarta, pameran
berjudul "Nandur Srawung" pameran lintas disiplin seni
yang diikuti oleh 500 seniman serta dimeriahkan oleh
deretan band seperti Kronchonk Chaos, FSTVLST,
Sangkakala, The Arya, Belajar Membunuh, Mamahima sebagai acara pembuka pameran.
pengambilan video oleh Redot Ebe dan Ajeng.
pengeditan video di kerjakan Redot Ebe yang di kemas dengan durasi: 1 menit 15 detik.
Kegelisahan waktu tak jenak, karena masa depan anak
Satu
malam 26 oktober 2014 di kota semarang ketika kegelisahanku melihat
jam menunjukan pukul 19:47, kegelisahan karena di jam segini masih
saja berada di kota ini. Bukan karena menikmati suasana seperti
halnya saya membuat karya pada malam hari seperti biasanya, akan
tetapi kesempatan selama dua hari di kota semarang hanya karena untuk
memenuhi undangan hajatan paralel event Kota Masa Depan kolektif
Hysteria tentang "Peka Kota" yang kedapetan Saya untuk
membuat karya di dua tempat wilayah di Semarang. Setelah hari kedua
Saya di Semarang harus kembali ke Jogja lantaran kembali menjadi
kepala rumah tangga, hahahha edan.
Dua
hari di Semarang tampak terlalu cepat melewati untuk sebuah kunjungan
mengikuti kegiatan di kota teman, "biasanya sampai larut tak
kunjung ingat waktu pulang" tapi kali ini tidak! Alasan status
qou
yang tak bisa di tawar pergi keluar rumah maka harus kembali ke
rumah.
Lokasi
karya yang saya akan buat kedua kali ini kebagian di wilayah Semarang
atas tepatnya di daerah bayumanik . Kawasan yang sangat padat kuliner
serta pertokoann hingga klontong yang menjajakan menu kebutuhan
masyarakat begitu juga daerah tersebut menjadi lintasan arah
banyumanik ke daerah tembalang. Namun lokasi dinding untuk karya
stencil saya eksekusi berada di
sebuah tanah lapang RT3 RW 1, Sumurboto, dinding tanah kosong yang di
apit rumah warga yang menyisakan sisa lapangan bulutangkis tak lagi
terpakai. Pilihan lokasi sudah di tentukan oleh Hysteria berkaitan
dengan pemutaran gerobak bioskop keliling di kelurahan Banyumanik.
Pertemuan
saya dengan salah satu warga bernama mas Dani yang menunjukan dinding
yang akan saya gambar, "Dani pemuda dengan perawakan badan
berusia sekitar 35 an yang mungkin disiplin waktu dan makan tak
pernah telat" ujar Saya dalam hati. Sembari menunju tempat yang
tak jauh dari lapangan kelurahan, saya bincang singkat tentang lokasi
dan karya apa nanti saya buat, sembari Dani menyiapkan lampu
penerangan seadanya Saya pun memulai proses berkarya. Satu persatu
warga sekitar berdatangan tak ketinggalan anak-anak yang di dampingi
oleh orang tuanya, sampai mereka menyiapkan wejangan esteh, tikar
untuk menonton ketika saya berproses, "hahahahhahaha,
pertunjukan yang seru malam ini di bekas lapangan yang dengan
penerangan alakadarnya, edaaaaaaaaaass" tak luput pertanyaan
bertubi-tubi secara spontan yang di utarakan ke saya dari anak-anak
kecil karena keingin tahuan berlebih. Semacam suasana berada di ruang
kelas sekolah dasar mengamati pelajaran yang tertulis di papan
tulis.
Durasi
proses yang saya kerjaakan tak selama seperti saya nongkrong ngobrol
ngalor ngidul gak karuan obrolan wacana seni yang memusingkan untuk
kita realisasikan, proses stencil di ruang publik lebih cepat dari
sekedar mencetak pola gambar yang telah di siapkan tidak seperti
proses berkarya di ruangan kebanyakan karena segala pertimbangan,
alasan berat disaat membicarakan soal estetika dan komposisi rumit
dengan embel-embel kepentingan orientasi pasar atau pesanan gallery
yang ujung-ujungnya duit. Dan tak seberat diskusi wacana seni dikala
waktu yang menghambat sebuah proses. "Tidak bermaskud
menyederhanakan persoalan", yang ada di benak saya kala itu
adalah interaksi bersama warga setempat, orang tua dan anak-anak
sebagai pewaris peristiwa yang saat ini terjadi untuk kemudian
memproduksi sesuatu yang mereka lihat dan temui.
Menjelang
selesai disaat waktu menunjukan pukul delapan lewat malam, kang
Klowor yang semestinya mendokumentasikan dari awal Saya berproses
datang telat lantaran menyiapkan kebutuhan listrik untuk pemutaran
bioskop di lapangan kelurahan, setelah satu persatu warga
meninggalkan lokasi, tak ingin ketinggalan salahsatu warga yang
menghampiri saya bertanya-tanya soal teknis dan tujuan saya membuat
karya stencil di lokasi itu. Sembari bebenah peralatan, sesingkat
cerita kami berbincang tentang alasan pemilihan tempat, kebutuhan
komersil hingga sosial politik yang penuh dengan norma pembenaran,
melihat
fenomena relevansi seni dan pergerakan sosial/politik dengan
menjawabnya hanya pada wilayah ‘anti-korupsi’, pelanggaran HAM
dan lingkungan seolah-olah wilayah itulah yang selama ini dimaksud
sebagai ranah sosial politik. Mungkin disitulah pula letaknya
kekeliruan kita dalam mempetakan ‘hasrat’ di ranah bergemuruh
hiruk-pikuk bernama ‘politik’. Ranah yang selama ini selalu
dikotak-kotakan sedemikian rupa berdasarkan kepentingan dan agenda
sementara, sedemikian rupa sehingga solah-olah hidup yang kompleks
dapat dibagi menjadi dua wilayah yang personal dan yang publik, yang
solider dan soliter.
Sembari
membereskan peralatan-cetakan kertas stencil saya, pikiran Saya
mulai gelisah berganda karena urung waktu tak seperti yang saya
harapkan sebelumnya, "jika penggarapan di lokasi ini lebih awal
waktunya, kemungkinan tak larut hingga malam menjelang", namun
perasaan itu kuredam karena tak ingin terlalu lama menggerutu di
perjalanan menuju pulang.
Sibuk membangun lupa berkebun
Ada waktu dimana perubahan untuk mengajak masyarakat membayangkan masa depan kota
sesuai yang mereka inginkan. Dalam banyak perubahan selama ini kota di Indonesia didesain
secara elitis, hanya melibatkan pimpinan daerah dengan ahli
tata kota. Fenomena ini memang terkadang terlihat sangat egois karena masyarakat dipaksa untuk menjadi barisan warga yang sibuk mengikuti perubahan kota yang belum tentu tepat di
masyarakat.
Pembangunan kota diputuskan dari kepentingan sesaat mengejar pertumbuhan pendapatan daerah. atas nama investasi dan pendapatan daerah tanpa memperhitungkan lahan serapan menjadi potret kekuasaan elitis atas dampak degradasi kehidupan sosial dan lingkungan alam yang semakin parah.
PRINT
artwork by Isrol triono A.K.A Media Legal
For sale. Email me at isroltriono@gmail.com if interested.
"anak kecil mandi di ember" 41X51cm - Edition 2
3 colour silckscreen on concord cream paper. 250gsm paper.
"Black Flag - spray paint" 39X45cm Edition 10, one colour silckscreen,
roll hand paint background on concord white paper. 250gsm paper.
"SOLIDARITY" 51X33cm,
one colour screenprint withs praypainted additions.
"Memory in the wall" 32X43cm, 3 Edition
Digital Artwork
DAZZLED
Dazzled sebuah band Hardcore yang terbentuk di Pondok Gede pada akhir 2011. personil terdiri dari Audi (Bass), Benny (Vokal), Meirio (Gitar), dan Decky (Drum) mereka akan segera meluncurkan debut albumnya dipenghujung tahun 2014, sebelumnya band yang juga telah meluncurkan single yang bertajuk “Born To Fight The Light” di Album kompilasi Hardcore Indonesia pada tahun lalu.
Saya mendapatkan kesempatan untuk membuat sebuah desain artwork Dazzled. pada kesempatan komunikasi yang lumayan intens melalui cating facebook di bulan mei-juni 2014. Pada awalnya iseng-iseng saja, karena memang salahsatu personil Dazzled (Audi a.k.a Amoi) terbilang teman lama di bekasi yang dulu satu tongkrongan di scene punk di kota itu. alhasil dari sapa menyapa obrolan saya dengan audi berbuah membuat sebuah artwork Dazzled.
Skateboard - media legal
Pantang pulang sebelum menang
Hidup dan mati di tanah sengketaSkateboard - media legal
Saya tidak terpikirkan untuk menjadi pemain skateboard, tapi saya suka ketika para skaters memainkan trip freestyle dengan berbagai kelincahan diatas papan beroda empat, yang membuat saya gregetan sekaligus terkesan adalah bagaimana dia bisa melakukan, memainkan alat itu hingga begitu mahir dan lincah, tentunya "belajar" proses dimana mereka terus menerus mengulik dan belajar cara-cara yang tidak merasa cukup dan puas ketika mencapai kemampuan dalam satu trip/freestyle.
Kendaraan murah, macet semakin parah
Media Legal - Hijab
Pantang pulang sebelum menang
video
Di sela-sela tidak membuat karya di jalan, aktivitas harus tetep berjalan. Selain mengerjakan urusan domestik, menyiapkan desain stencil dan kesibukan yang lainnya pada bulan januari dan febuari 2014, Pada 2 bulan terakhir buat saya menjadi peristiwa awalan tahun penting yang perlu di catat di mana tempat baru saya tinggal di pinggir kota jogja bersama istri saya. Salahsatu ruangan beukuran 4x3 meter kurang lebihnya terbilang menjadi ruang impian kami untuk mengerjakan serta merealisasikan mimpi yang berkembang tentang masa depan dengan harapan-harapan perubahan yang saya jalani setelah saya memilih berkeluarga dan menata rumah tangga.
behind the #GUELUmerchandise
Pada akhir bulan januari saya mendapat kesempatan untuk membuat poster tentang karya video pendek Rifqi mansyur maya biasa disapa kiki, karya videonya berjudul #GUELU, obrolan ngalor-ngidul berlangsung berkembang soal rencana membuat official merchandise dari film pendek GUELU (kikiretake, 2013). Produksi merchandaise ini berkaitan dengan moment pemutaran video tersebut yang berlangsung pada pertengahan bulan januari di kampus unair surabaya.Di moment produksi merchandaisenya juga dibuat video dokumentasi pendek proses nyablon dari setiap desain yang di aplikasikan pada kaos, poster, totebag yang di cetak dengan jumlah terbatas akhirnya terealisasi dengan hasil yang membanggakan.
Metode promosi sebuah produk dikemas melalui video dokumentasi ini terbilang salah satu dari yang lain cara bagaimana konsumen melihat sebuah merchandaise di produksi, walaupun selera penampilan berbeda-beda yang tidak hanya bergaya itu-itu saja.
behind the merchandasie indoprogres
masih dengan berbau aroma tinta sablonan cetak mencetak diatas kain dan kertas, di awal bulan febuari 2014 saya juga kedapetan ajakan untuk mengerjakan merchandaise INDOPROGRES. sebuah media berbasis online yang mendukung pegiat pengetahuan dan aktivis gerakan progresif, pada moment ini saya memeberi dukungan melalui membuat kaos dan totebag dari karya desain seniman Alit ambara. Peristiwa ini menjadi penting ketika keterlibatan proses diskusi sederhana dengan salahsatu pengelola website indoprogres beberapa waktu sebelum kami mengeksekusi desain yang kami tentukan. obrolan singkat di tongkrongan soal bagaimana sebuah karya seni berupa desain nobodycorp tidak hanya bertebaran di sosial media saja, namun menjadi menarik perhatian ketika itu hadir di tengah publik berupa benda fungsi yang terus bergerak.dengan kemampuan ilmu cetak-mencetak alias nyablon yang saya dapat secara otodidak dari berbagai sumber, maka berani mencoba berani gagal adalah aset dan modal utama untuk tidak selalu puas dengan hasil yang saat ini sudah saya kerjakan.
Relasi ISAD dengan jejaring street art Indonesia
Pada akhir 2011 hingga awal 2012, divisi database Indonesian Street Art Database (ISAD) menelusuri kota-kota di Indonesia dalam rangka penelitian untuk memperluas jaringan street art tanah air. Kota-kota yang di kunjungi meliputi Banda Aceh, Bandung, beberapa kota di Bali, Balikpapan, Cilacap, Kendal, Magelang, Medan, Pekan baru, Purwokerto, Semarang, Solo, Tangerang, Wonosobo dan Yogyakarta. Selain bertemu dengan pelaku street art, program ini juga bertujuan untuk memantau perkembangan kegiatan pendokumentasian peristiwa street art, graffiti, dan seni visual jalanan lain seperti stencil, stiker, poster, mural, dan wheatpaste dalam medium foto, video, audio, dan teks.
Proses kerja penelitian yang di lakukan oleh ISAD di setiap kota berbeda-beda. Ada yang menghadiri undangan menggambar bersama, bombing, pemutaran film dan diskusi, presentasi database ISAD, sampai ngobrol tentang perkembangan ruang publik di setiap kota yang disinggahi. Strategi penilitian yang cair seperti ini merupakan elemen relasi kerja inisiatif berjejaring yang penting antara satu dengan lainnya. Hubungan lintas kota ini tidak berhenti sampai momen tertentu saja, namun berlanjut pada usaha membangun kesadaran-menginspirasi individu ataupun kelompok untuk berpartisipasi membangun pusat data dan mendorong inisiatif pengarsipan dan pendokumentasian peristiwa street art yang berkembang di setiap kota. Fenomena ini ditunjang oleh komunikasi yang terjalin melalui media sosial, khususnya facebook dan twiter.
ISAD yang beralamat di Komplek Pasar Minggu Indah, Jalan Bambu Ampel III No. D 15A, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, menjadi pusat jejaring street art yang terkoneksi di beberapa kota besar di Indonesia. Sehari-harinya, ISAD juga menjadi basecamp atau tempat berkumpul. Selain itu, ada program rutin yang di adakan hampir setiap bulannya, seperti forum diskusi dengan mengundang para pelaku, penikmat, dan pemerhati street art. Forum ini mengkaji sekaligus mengamati street art yang semakin berkembang setiap harinya.
Street Art telah melewati batas teritori kota dengan menjangkau pelosok desa, seiring meningkatnya penyebaran referensi visual lewat internet, nuku-buku terbitan luar dan dalam negeri, maupun berkat diskusi yang terjalin saat ada kesempatan bombing bersama atau interaksi lainnya.
Street art yang telah terdata secara digital oleh ISAD mencakup dokumentasi foto, video, audio dan artikel. Sumbernya beragam, ada yang dikirim oleh masing-masing individu dari beberapa kota, ada pula hasil mengumpulkan lewat media sosial. Tidak sedikit pula dokumentasi yang berhasil di kumpulkan lewt observasi langsung. Semua atas dukungan dan partisipasi penuh banyak individu maupun kelompok street art di setiap daerah.
Frekwensi penyebaran dokumentasi kegiatan street art tersebut cukup tinggi. Ini bisa menjadi salah satu bukti keberhasilan kerja berjejaring yang sungguh masif. Hal ini turut mendorong munculnya kesadaran membuat ruang alternatif yang bisa digunakan untuk pameran atau menjual berbagai peralatan pendukung berkesenian, seperti caps, canspray-tools, artbook, film, buku dan merchandaise lain. Kegiatan street art juga mulai banyak di ulas oleh media massa, hingga menjadi objek kajian sosial dan budaya anak muda.
Seiring dengan berjalannya kerja pengarsipan yang dilakukan ISAD bersama jejaring yang telah dirintis selama tiga tahun ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi para pegiat dan penikmat street art untuk ikut mendokumentasikan berbagai kegiatan seni visual jalanan yang terjadi di kota masing-masing.
Dokeumntasi bisa menjadi titik awal untuk melacak kembali rekam jejak perjalanan dan perkembangan street art di suatu daerah. Meskipun pada praktiknya proses pendokumentasian ini kerap terhalang kendala teknis, kerja kolektif ini terus berlangsung berbekal semangat dan kesadaran untuk berkembang bersama.
Ke depannya, semoga ISAD dapat terus menjaga proses kerja yang selama ini sudah terjalin bersama jejaring individu dan komunitas dalam mendokumentasikan dan mengarsipkan peristiwa-peristiwa street art di seluruh Indonesia.
Salam
Isrol A.K.A Media Legal
canvas
Beberapa waktu ini beberapa karya dengan obyek figur anak-anak aku sudah aplikasikan di ruang
publik dengan ukuran yang relatif besar, dimana intensitas pada saat ini kerap kali dekat dengan anak-anak, mulai dari bermain, ngobrol, sampai teradang memberi workshop pada acara-acara tertentu.
Berangkat dari intensitas itulah saya terinspirasi membuat karya obyek anak-anak, selanjutnya saya mengaplikasikan kedalam teknik stencil terus tetep dengan nafas
streetart dan tidak meninggalkan teknik dan jurus stencil aroma jalanan,
3 karya baru ini aku aplikasikan ke kanvas untuk kebutuhan pameran di
dialogue kemang raya jakarta. Dialogue dalam durasi waktu pameran selama dua bulan, agustus-september 2013.
mewarnai hidup
size: 130x100cm
spray on canvas
bersepeda
size: 130x100cm
spray on canvas
alam raya sekolahku
size: 130x100cm
spray on canvas
Tutup botol
Seneng banget mengolah barang bekas menjadi merchandaise yang berfungsi. Seperti pin, tempelan kulkas, gantungan konci, kalung yang saya buat dari tutup botol. Singkat cerita ide memanfaatkan tutup botol ini muncul pada akhir tahun 2012, ketika saya suka mengkoleksi pin dari mulai diameter kecil sampai yang besar.
Kalau menurut temenku pin dengan diameter kecil 2,5 cm stock
kalengnya mesti impor dan tidak banyak dijual di pasaran grosir. Dari persoalan
sulit barang impor dan tak ingin menunggu lama dari dilema pin dengan diameter
kecil, saya kepikiran tutup botol minuman yang ukuran diameternya hampir mirip
kecilnya, lalu saya mencyiapkan desain dan mencoba membuat pin dengan
memanfaatkan tutup botol bekas yang saya kumpulkan dari beberapa tempat, untuk soal ngecor resin saya tanya ke teman yang biasa membuat patung cor.
bahan material menyesuaikan dengan kebutuhan merchandaise yang akan kita akan buat.
Bahan:
- tutup botol
- resin bening
- desain print di atas kertas
- peniti
- lem double tape
- rantai
- magnet
- rantai
- magnet
"keberagaman"
"perdamaian"
"dunia sedang tidak baik-baik saja"
SmArt Dialogue Pasar Seni & Exhibition
Pada tanggal 18 di bulan Mei 2013, Saya di undang untuk ngelapak di dialogue, Sebuah Artspace atau ruang pamer yang terletak di daerah Kemang Jakarta selatan.
Ngelapak yang saya ikuti kali ini adalah sebuah kegiatan pasar seni dengan nama smArt Dia.lo.gue
Kegiatan ini yang digelar 2 kali setahun, merupakan wujud dari visi dan misi dia.lo.gue dalam menyediakan sebuah ruang untuk ber-dialog dan ber-interaksi bagi seniman maupun desainer dengan publik.
berbagi kegiatan bermanfaat bagi pengunjungnya, mulai dari workshop interaktif, demo dan pertunjukkan musik. Sebuah pameran seni kontemporer pun di gelar guna memeriahkan acara ini, yang akan diikuti oleh seniman-seniman muda berbakat dari Jakarta, Bandung dan Jogjakarta.
event riview Butik Musik, http://bit.ly/10P8Azx
Langganan:
Postingan (Atom)















